Bela Diri Medis PSHT Tarik Perhatian Internasional, Warga Denmark Ikut Pelatihan di Magetan

Magetan I GemaTipikor — Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) kembali menegaskan perannya sebagai organisasi yang adaptif dan berorientasi pada kemanusiaan melalui pengembangan Pelatihan Bela Diri Medis, sebuah inovasi yang memadukan kekuatan bela diri dengan kepedulian sosial. Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dan berakhir pada Jumat, 16 Januari 2026, di Sekretariat PSHT Ranting Barat, Cabang Magetan.
Menariknya, pada hari terakhir pelatihan, kegiatan ini mendapat perhatian dari warga negara Denmark bernama Christian, yang hadir secara langsung untuk menyaksikan sekaligus mengikuti proses pelatihan. Christian didampingi Agus Mulyana dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Provinsi Jawa Barat di bawah naungan Kementerian Kebudayaan. Kehadiran tamu internasional tersebut menjadi penanda bahwa ajaran dan praktik PSHT mulai dilirik sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.
Pelatihan Bela Diri Medis ini dirancang sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan nyata di tengah masyarakat, tanpa meninggalkan jati diri dan nilai luhur ajaran Setia Hati. Program ini memperluas spektrum kemampuan warga PSHT, yang selama ini dikenal unggul dalam penguasaan jurus, pencak, dan senam, dengan keterampilan tambahan di bidang penanganan gangguan fisik akibat kecelakaan maupun cedera ringan.

Melalui pelatihan ini, warga PSHT dibekali kemampuan praktis untuk membantu mengatasi keluhan pada punggung, pinggang, panggul, hingga pergelangan kaki. Keterampilan tersebut diharapkan dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, Bela Diri Medis PSHT merupakan wujud konkret implementasi filosofi luhur “Memayu Hayuning Bawono”, yakni menjaga dan memperindah harmoni kehidupan. Warga PSHT didorong untuk hadir sebagai pelindung dan penolong, tidak berpangku tangan saat sesama mengalami kesakitan, melainkan mampu mengambil peran aktif dengan penuh tanggung jawab dan empati.
Dari sisi metode, pelatihan ini dikemas secara praktis dan aplikatif, tanpa pendekatan akademik yang berbelit. Pola ini terbukti efektif, terlihat dari keberanian anggota muda, termasuk pemula, yang telah mampu terlibat langsung dalam kegiatan terapi massal untuk masyarakat. Selain itu, Bela Diri Medis PSHT juga dimanfaatkan sebagai sarana aksi sosial dan penggalangan dana kemanusiaan, seperti yang pernah dilakukan untuk membantu korban bencana di Sumatera Barat.
Ke depan, Pelatihan Bela Diri Medis ini diharapkan menjadi ruang silaturahmi lintas organisasi Setia Hati (Trah SH). Program ini terbuka untuk organisasi serumpun seperti Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), Setia Hati Tunas Muda (SHTTM), Persaudaraan Setia Hati Pilangbango, serta keluarga besar Setia Hati lainnya, sebagai bentuk persaudaraan yang inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Sebagai penegasan, inti dari program Bela Diri Medis PSHT adalah mencetak Pendekar Setia Hati yang paripurna—tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga hadir sebagai insan yang memberi manfaat nyata bagi kemanusiaan melalui kemampuan menolong dan menyembuhkan, ujar kang mas Istiono
Pelatihan ini dibimbing langsung oleh Kang Mas Istiono, yang menekankan bahwa kekuatan sejati seorang pendekar tidak semata terletak pada jurus, melainkan pada sejauh mana ilmunya mampu menghadirkan manfaat, harapan, dan keberkahan bagi sesama.(AS)





