Menumbuhkan Generasi Changemaker: SMPN 3 Paron Ngawi Perkuat Pendidikan Transformatif Berbasis Potensi Lokal

Ngawi I GemaTipikor — SMP Negeri 3 Paron Ngawi terus meneguhkan komitmennya sebagai satuan pendidikan yang menghadirkan pembelajaran bermakna dan kepemimpinan transformatif berbasis potensi lokal. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Purwati, M.Pd., sekolah ini aktif membangun ekosistem belajar yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, empati, dan kepedulian sosial peserta didik.
Komitmen tersebut selaras dengan kolaborasi bersama Ashoka, organisasi global pionir kewirausahaan sosial yang berdiri sejak 1981 dan kini beroperasi di lebih dari 90 negara. Ashoka dikenal melalui pendekatan perubahan sistemik dalam menjawab tantangan sosial dan lingkungan, serta menginisiasi gerakan Everyone A Changemaker, yang mendorong setiap individu—termasuk pendidik dan peserta didik—untuk mengambil peran aktif sebagai agen perubahan.

Di Indonesia, kontribusi Ashoka diwujudkan melalui Program Guru Gaharu, sebuah inisiatif penguatan pendidikan transformatif yang membekali guru dengan kepemimpinan berbasis empati, kolaborasi, serta pemanfaatan aset dan kearifan lokal sebagai sumber belajar.
Dalam konteks inilah, Riana Fathonatul Qoidah, guru SMPN 3 Paron, tampil sebagai representasi nyata guru transformatif. Tidak sekadar mengajar di ruang kelas, Bu Riana menginisiasi program MUJEPA (Mulsa Jerami Padi), sebuah praktik pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan isu keberlanjutan lingkungan dengan penguatan karakter peserta didik. Melalui MUJEPA, siswa diajak memahami persoalan nyata di sekitar mereka sekaligus terlibat langsung dalam solusi berbasis potensi lokal.

Inisiatif tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan kesadaran lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan semangat gotong royong di kalangan peserta didik. Bu Riana pun menjadi role model bagi komunitas sekolah dalam memaknai peran guru sebagai pemimpin perubahan.
Sebagai bagian dari diseminasi praktik baik tersebut, Tim Ashoka melakukan pengambilan video dokumentasi yang merekam profil, konteks pembelajaran, serta praktik kepemimpinan Bu Riana sebagai Guru Gaharu. Dokumentasi ini diharapkan menjadi media pembelajaran dan sumber inspirasi bagi sekolah lain serta masyarakat luas, sekaligus menegaskan posisi strategis guru dalam mendorong perubahan sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.
Bagi Bu Riana, keterlibatannya dalam program Time for Change bukan sekadar mengikuti pelatihan, melainkan sebuah proses reflektif dan transformatif.
“Menjadi bagian dari Time for Change memberi saya inspirasi dan kerangka praktis untuk membimbing siswa sebagai changemaker. Pelatihannya membekali saya untuk memperkuat inisiatif yang sedang kami bangun di komunitas sekolah,” ujarnya.
Ke depan, Bu Riana berharap pembelajaran di sekolah dapat terus berkembang menjadi ruang tumbuh empati, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Ia membayangkan sekolah sebagai ekosistem kolaboratif, tempat guru dan murid bersama-sama mengolah potensi lokal menjadi solusi nyata, sehingga perubahan tidak hanya lahir di ruang kelas, tetapi berakar kuat di komunitas dan berkelanjutan lintas generasi. (AS)





