NasionalSosial Budaya

Usai HPN 2026, Pokja PWI Kejaksaan dan PN Jaktim Silaturahmi ke Ponpes Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah Lebak

Lebak, Banten, GemaTipikor –
Usai mengikuti rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 Tahun 2026, Pokja Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah di Kampung Pasir Akmad, Desa Muara II, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (10/2/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan setelah rombongan Pokja PWI menghadiri peringatan HPN 2026 yang digelar di Alun-alun Kota Serang. Silaturahmi ini bertujuan mempererat ukhuwah serta membangun hubungan yang harmonis antara insan pers dengan lembaga pendidikan keagamaan.

Rombongan Pokja PWI disambut langsung oleh pimpinan pondok pesantren, KH Zamzam yang akrab disapa Abi Zamzam, didampingi istri beliau Siti Nurlelah atau Umi Lelah. Dalam suasana penuh keakraban, pihak pesantren memaparkan sejarah berdirinya pondok, visi dan misi, serta sistem pendidikan yang diterapkan.

Abi Zamzam menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah didirikan pada tahun 2013 dan mulai menetap secara permanen di lokasi saat ini sejak 2018–2019. Nama Al-Malikiyyah diambil dari nama orang tua beliau, sedangkan Tarbiyatul Falah merupakan nama pesantren keluarga dari pihak istrinya.

“Alhamdulillah, pesantren ini telah berjalan sekitar delapan tahun. Harapan kami, pondok ini terus berkembang dan mampu mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta bermanfaat bagi umat, baik di dunia maupun di akhirat,” ujar Abi Zamzam.

Menurutnya, tujuan utama pendirian pesantren adalah membentuk generasi penerus yang memiliki pemahaman agama yang kuat, karakter yang baik, serta kemandirian. Meski berhaluan salafiyah, sistem pendidikan dikembangkan dengan penguatan aturan dan kedisiplinan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Konsepnya salafiyah, namun kami perkuat dengan aturan yang jelas. Santri dibiasakan hidup disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi,” jelasnya.

Abi Zamzam juga mengungkapkan bahwa pesantren masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana, khususnya pembangunan masjid serta penambahan asrama, seiring meningkatnya jumlah santri. Meski demikian, pihak pesantren tetap berkomitmen memberikan akses pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat.

“Tidak ada biaya pendaftaran, hanya sedekah seikhlasnya. Iuran bulanan sekitar Rp400 ribu sudah mencakup makan tiga kali sehari dan kebutuhan dasar santri,” ungkapnya.

Sementara itu, Umi Lelah memaparkan berbagai prestasi santri Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah yang telah mengharumkan nama pesantren di tingkat nasional, khususnya melalui ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) serta Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK).

Sejumlah prestasi di antaranya diraih pada STQH Pontianak 2019, STQH Maluku Utara 2021, STQH Jambi 2023, hingga STQH Kendari, Sulawesi Tenggara 2025. Selain itu, santri pesantren ini juga mencatat prestasi pada ajang MQK Nasional di Wajo, Sulawesi Selatan.

“Prestasi bukan tujuan utama kami. Yang terpenting adalah keberkahan dan kemanfaatan ilmu bagi para santri. Prestasi hanyalah bonus dari proses pendidikan,” tutur Umi Lelah.

Dalam kesempatan tersebut, Abi Zamzam dan Umi Lelah turut menyampaikan ucapan Selamat Hari Pers Nasional ke-80 kepada seluruh insan pers di Indonesia. Mereka berharap pers nasional terus menjalankan fungsi edukasi, kontrol sosial, serta menjadi mitra strategis dalam pembangunan bangsa.

Melalui silaturahmi ini, pihak pesantren berharap terjalin sinergi dan kepedulian dari berbagai pihak, khususnya dalam mendukung pengembangan pesantren serta pendidikan santri dari kalangan kurang mampu.

(Alred)

Related Articles

Back to top button