NasionalTopik Terkini

Badilum Dorong Budaya Intelektual Hakim, Tak Lagi Andalkan Senioritas

Jakarta, GemaTipikor – Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum (Badilum) di bawah Mahkamah Agung Republik Indonesia terus memperkuat pembinaan tenaga teknis peradilan dengan fokus pada peningkatan kualitas hakim dan aparatur peradilan,(Senin, 13 April 2026).

Hal ini disampaikan oleh Hasanudin, Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Umum, dalam Podcast Badan Peradilan Umum (PODIUM) yang dipandu Bayu Wicaksono dan ditayangkan melalui kanal YouTube Badilum, Senin (13/04).

Hasanudin menegaskan bahwa pembinaan tenaga teknis tidak sekadar bersifat administratif, tetapi diarahkan pada penguatan substansi agar putusan hakim benar-benar mencerminkan rasa keadilan di masyarakat.

“Arah kebijakan kami jelas, bagaimana meningkatkan kualitas hakim sehingga putusannya mampu memberikan rasa keadilan kepada masyarakat,” ujarnya.

Peningkatan kualitas hakim dilakukan melalui berbagai instrumen, salah satunya eksaminasi putusan yang menilai aspek substansi dan keadilan. Selain itu, Badilum mengembangkan sejumlah program berbasis intelektual seperti Perisai, Arunika, Dimensi, serta Badilum Learning Center (BLC).

Sistem pembinaan mengintegrasikan dua komponen utama:

• Kinerja: mencakup penyelesaian perkara melalui SIPP dan kualitas putusan melalui e-eksaminasi

• Potensi: meliputi kompetensi individu seperti bahasa asing, pendidikan, pelatihan, dan karya ilmiah

Pendekatan ini diperkuat dengan manajemen talenta (talent management) untuk memetakan hakim dan tenaga teknis sesuai kapasitasnya.

“Dari situ kami dapat menentukan siapa yang berpotensi menjadi pimpinan, hakim yustisial, pengajar, atau ditempatkan di fungsi pengawasan,” jelas Hasanudin.

Ia menegaskan bahwa promosi dan mutasi merupakan bagian akhir dari proses pembinaan, sehingga pendekatan berbasis senioritas semata tidak lagi relevan.

“Budaya menunggu itu tidak baik karena menghambat kreativitas dan kemajuan.”

Badilum juga mendorong penguatan budaya intelektual melalui sejumlah program:

• Arunika: wadah penulisan artikel hukum oleh hakim

• Dimensi: kumpulan inventarisasi masalah teknis dari praktik di lapangan

• Perisai: forum diskusi rutin nasional bagi hakim dan tenaga teknis

Menurut Hasanudin, kebiasaan menulis memiliki dampak langsung terhadap kualitas putusan.

“Hakim yang terbiasa menulis akan menghasilkan putusan yang runtut, mudah dipahami, dan komunikatif bagi masyarakat.”

Terkait pemanfaatan materi pembinaan oleh pihak eksternal seperti advokat dan jaksa, Hasanudin menilai hal tersebut sebagai bagian dari keterbukaan informasi dan kontribusi keilmuan peradilan.

Namun demikian, hakim tetap dituntut bersikap kritis dalam menilai argumentasi di persidangan dan memastikan relevansi terhadap perkara konkret.

Untuk menjangkau seluruh satuan kerja, termasuk di daerah terpencil, Badilum menghadirkan Badilum Learning Center (BLC) sebagai platform pembelajaran daring.

Selain itu, Podcast PODIUM menjadi alternatif pembelajaran fleksibel di tengah tingginya beban perkara.
“Materi bisa diakses kapan saja, bahkan sambil beraktivitas. Ini solusi bagi rekan-rekan di daerah dengan perkara tinggi,” kata Hasanudin.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Hasanudin mengingatkan pentingnya menjaga integritas intelektual dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, AI dapat membantu, tetapi tidak boleh menggantikan proses berpikir dan belajar hakim.

“Menulis itu bagian dari proses belajar. Kalau sepenuhnya diserahkan ke AI, ilmunya tidak akan melekat.” Ia juga menekankan pentingnya verifikasi hasil AI melalui referensi yang kredibel.

Badilum menargetkan dalam 5–10 tahun ke depan terbentuk budaya belajar yang kuat di lingkungan peradilan. Dengan peningkatan kapasitas intelektual, diharapkan kualitas putusan semakin meningkat dan kepercayaan publik terhadap peradilan semakin kuat.

Hasanudin menutup dengan penegasan pentingnya integritas dan profesionalisme:
“Tingkatkan kualitas diri dan pastikan seluruh pelayanan bebas dari praktik transaksional.”

Editor: AH
William E. Sibarani: Dandapala Contributor

Related Articles

Back to top button