AWI Soroti Proyek P3-TGAI Tunas Jaya di Sintang
Diduga Asal Jadi dan Tidak Tepat Sasaran

Sintang, Kalimantan Barat I Gema Tipikor – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI), yang digadang sebagai model pembangunan pedesaan antikorupsi oleh Kementerian PUPR, justru menuai kritik keras di Kabupaten Sintang. Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Kalimantan Barat menyoroti pelaksanaan proyek oleh P3A Tunas Jaya di Desa Telaga Dua (3 titik) dan Desa Telaga Satu (7 titik), Kecamatan Binjai Hulu, yang diduga dikerjakan asal jadi dan tidak tepat sasaran.
Bukan menjadi contoh pemberdayaan masyarakat, proyek bernilai ratusan juta rupiah per titik ini justru disebut warga sebagai “proyek asal jadi, alias asal bapak senang.”
Padahal, P3-TGAI dirancang khusus untuk memperkuat jaringan irigasi lahan pertanian produktif—bukan dibangun di sekitar kebun sawit yang tidak memiliki relevansi dengan fungsi irigasi pertanian.

Kualitas Fisik Disorot: Material Buruk hingga Pintu Air Tak Ada
Hasil monitoring lapangan AWI Kota Pontianak menemukan banyak kejanggalan pada kualitas pekerjaan.
Di sejumlah titik proyek, ditemukan:
Material berkualitas rendah
Struktur saluran retak dan tidak rata
Ketiadaan pintu air sebagai komponen vital irigasi
> “Saluran irigasi seperti ini tidak akan bertahan lama. Pekerjaan yang seharusnya kokoh bertahun-tahun justru terancam rusak dalam waktu dekat. Ini jelas merugikan negara dan petani,”tegas Budi Gautama, Koordinator Tim Monitoring AWI Kalimantan Barat.
Proyek Rp195 Juta Dinilai Gagal Total
Salah satu titik proyek di Desa Telaga Dua dengan nilai Rp195 juta dinilai tidak memberikan hasil signifikan. Kondisi di lapangan menunjukkan pekerjaan tidak maksimal dan lebih mirip formalitas administrasi dibandingkan pembangunan nyata.
> “Saluran irigasi yang dibangun tidak mampu mengalirkan air secara optimal. Lahan petani terancam gagal panen. Jika dibiarkan, proyek ini tidak membawa manfaat sama sekali,” lanjut Budi Gautama.
AWI Mendesak Investigasi Terbuka dan Langkah Tegas
Atas temuan tersebut, AWI Kalbar meminta Balai Wilayah Sungai Kalimantan I (BWSK I) Pontianak untuk:
1. Menunda pencairan dana tahap kedua sebelum ada perbaikan nyata.
2. Memberikan sanksi tegas kepada TPM dan pihak terkait jika terbukti menyimpang.
3. Melakukan investigasi terbuka, melibatkan masyarakat dan lembaga independen.
Suara Petani: Program Bagus, Tapi Jangan Disalahgunakan
Para petani mengaku kecewa, namun tetap berharap program P3-TGAI berlanjut dengan pengawasan lebih ketat.
> “Program ini bagus dan sangat membantu. Tapi jangan dikerjakan asal-asalan. Harus jujur dan sesuai kebutuhan petani,” ujar seorang petani kepada Tim AWI.
Sementara itu, pihak Satker/PPK OP yang dimintai konfirmasi melalui WhatsApp belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
Catatan Redaksi
P3-TGAI adalah instrumen penting untuk peningkatan irigasi pedesaan dan ketahanan pangan nasional. Namun tanpa pengawasan, transparansi anggaran, dan integritas pelaksana, program kerakyatan ini rawan diselewengkan dan hanya menjadi proyek seremonial.
AWI Kalbar menegaskan komitmennya untuk mengawal setiap proyek Kementerian PUPR agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa. BWSK I Pontianak diharapkan tidak ragu bertindak tegas, meski proyek ini disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan salah satu tokoh berpengaruh di DPR RI Dapil Kalbar II.
(Tim Redaksi Gema Tipikor)





