DaerahPendidikan

Santri Ponpes Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah Jalani Ngaji Jelang Berbuka, Warga Berbagi Bubur Kacang

Lebak banten,GemaTipikor – Suasana kebersamaan dan kesederhanaan mewarnai aktivitas santri di Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah, Kampung Pasir Akmad, Desa Muara II, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Minggu (22/2/2026).

Momen tersebut diketahui melalui unggahan status WhatsApp Umi Siti Nurlelah, S.Pd., istri dari KH Zamzam yang akrab disapa Abi Zamzam, pimpinan pondok pesantren tersebut. Dalam unggahannya, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para dermawan yang telah berbagi makanan bagi para santri.

“Bagi-bagi bubur kacang yang sudah dikemas di Ruang 2… suplemen sebelum nyoret kitab Anwarul Masalik biar teteh coretannya. Terima kasih orang-orang baik yang sudah berbagi makanan dan peduli kepada kami para santri, semoga Allah tambahkan rezekinya dan hasilkan segala tujuannya,” tulisnya.

Dalam keterangan tersebut juga disebutkan bahwa kegiatan belajar tetap berlangsung menjelang waktu berbuka puasa. Lurah pondok disebut tengah memberikan syarhul hadits (penjelasan hadits) sembari menunggu azan magrib.

Proses pengajian di pondok terbagi dalam beberapa ruang belajar. Untuk Ruang 2, kegiatan ngaji dilaksanakan di halaman asrama putri, sementara Ruang 1 menggunakan ruangan yang dinilai lebih nyaman. Kondisi tersebut menunjukkan adanya keterbatasan sarana dan prasarana, terutama untuk menampung seluruh santri dalam satu majelis.

Meski demikian, aktivitas belajar tetap berjalan dengan penuh semangat. Tradisi “nyoret kitab” yang disebut dalam unggahan merujuk pada metode memberi catatan atau makna pada teks kitab kuning. Kitab Anwarul Masalik yang dipelajari merupakan salah satu referensi dalam tradisi pesantren salafiyah yang menuntut ketelitian dan konsentrasi tinggi.

Kegiatan berbagi bubur kacang dalam kemasan sederhana menjadi makanan tambahan sebelum santri melanjutkan aktivitas mengaji hingga waktu berbuka. Berdasarkan informasi yang dihimpun, bantuan tersebut berasal dari masyarakat sekitar maupun donatur yang peduli terhadap kebutuhan konsumsi santri.

Selain ucapan terima kasih, unggahan tersebut juga memuat harapan agar ke depan pondok pesantren memiliki majelis atau ruang belajar yang lebih luas dan representatif.“Semoga di tahun yang akan datang punya majelis yang luas ya teteh dan mamang santri. Mohon doa ya teman-teman semuanya,” lanjutnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi tambahan dari pihak pengelola pondok terkait rencana pembangunan atau pengembangan fasilitas. Namun, pesan yang disampaikan melalui media sosial tersebut mencerminkan keterbukaan sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk turut mendoakan dan mendukung keberlangsungan pendidikan para santri.

Kegiatan sederhana seperti berbagi bubur kacang di tengah proses pengajian menjadi potret kehidupan pesantren: belajar, berbagi, dan bersyukur dalam kebersamaan, meski dengan sarana yang terbatas.

(Alred)

Related Articles

Back to top button