Berita Pilihan

Identitas Kopi Ponorogo Didorong Menguat, Legislator Jatim Ajak Petani Naik Kelas

Ponorogo | GemaTipikor — Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, SH, menekankan urgensi penguatan identitas kopi Ponorogo agar mampu tampil sebagai produk unggulan yang berdaya saing. Pesan tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi bertajuk “Peran Pemerintah dalam Budidaya, Pengolahan Panen, dan Pascapanen Kopi” yang digelar di Embung Patik, Desa Patik, Jumat (6/2/2026).

Sosialisasi ini diikuti para petani kopi dari Desa Patik dan kawasan sekitarnya, dengan menghadirkan narasumber berkompeten: Prayitno, SP, MST dari Dinas Perkebunan Jember serta Lukito Hari Sediarto, SP, MMA dari Bidang Perkebunan Kabupaten Ponorogo. Keduanya memaparkan penguatan sektor kopi dari hulu hingga hilir sebagai fondasi peningkatan kualitas dan nilai tambah.

Dalam sambutannya, Atika Banowati—politisi Partai Golkar dari Dapil IX Jawa Timur (Ponorogo, Trenggalek, Magetan, Pacitan, dan Ngawi)—menyampaikan bahwa Ponorogo memiliki potensi besar sebagai sentra kopi. Namun, nilai tersebut kerap tereduksi karena produk kopi asal Ponorogo justru dipasarkan dengan identitas daerah lain.

“Bahan bakunya dari Ponorogo, tetapi ketika masuk pasar, namanya berubah. Ini yang perlu kita luruskan bersama,” ujarnya. Ia mendorong keberanian petani dan pelaku usaha untuk memasarkan kopi dengan identitas Ponorogo sebagai kebanggaan daerah.

Menurut Atika, kultur ngopi di Ponorogo sudah mengakar kuat—mulai dari angkringan hingga kafe-kafe desa—dan sebagian besar telah menggunakan kopi lokal. “Jika warga sendiri konsisten menggunakan dan membanggakan kopi Ponorogo, pengakuan pasar akan mengikuti. Inilah kerja kolektif yang harus kita wujudkan,” tegasnya.

Ia berharap forum sosialisasi ini tidak hanya memberi pemahaman teknis, tetapi juga membuka wawasan strategis bagi petani dan pengusaha kopi untuk membawa kopi Ponorogo menembus pasar nasional bahkan global. “Peluang pasar masih sangat luas dan menjanjikan,” tambahnya.

Sementara itu, narasumber Lukito Hari Sediarto mengajak peserta memulai lompatan kualitas dari hulu. Ia menjelaskan pentingnya kesesuaian ketinggian tanam—Arabika ideal di atas 1.000 mdpl, Robusta di kisaran 600 mdpl—serta pengelolaan kebun yang tepat, mulai dari kesuburan tanah, pohon naungan, pengendalian hama, pemupukan, hingga pemangkasan.

Lukito juga menekankan ketelitian pada tahap panen dan pascapanen. “Pemetikan selektif, pengeringan yang tepat, sortasi, dan penyimpanan yang baik akan menentukan mutu akhir. Jika proses dijalankan dengan benar, kopi Ponorogo memiliki peluang besar untuk bernilai global,” jelasnya.

Kegiatan ini menegaskan bahwa kopi Ponorogo bukan semata komoditas, melainkan aset ekonomi sekaligus identitas daerah yang layak diperjuangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi petani, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.(AS)

Related Articles

Back to top button