Dari Anak Minder Menjadi Hakim Agung: Perjalanan Integritas Dr. Rahmi Mulyati

Jakarta, GemaTipikor – Selasa, 17 Maret 2026. Perjalanan hidup seseorang tidak selalu berjalan lurus. Bagi Dr. Rahmi Mulyati, S.H., M.H., jalan menuju puncak karier sebagai Hakim Agung Kamar Perdata Mahkamah Agung justru berawal dari kisah seorang anak yang merasa dirinya biasa saja di tengah keluarga yang penuh prestasi.
Rahmi lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 7 Desember 1959. Ia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan. Ayahnya seorang guru di STM, sementara ibunya pernah menjadi guru agama sekaligus kepala sekolah sebelum memutuskan berhenti mengajar untuk fokus membesarkan anak-anaknya.
Di lingkungan keluarga tersebut, prestasi akademik bukan hal yang langka. Kakak dan adik Rahmi kerap membuat orang tua mereka dipanggil ke sekolah karena capaian akademik yang membanggakan. Namun Rahmi merasa dirinya berbeda.
Ia mengaku tidak pernah menjadi juara kelas. Bahkan beberapa nilai rapornya pernah berwarna merah, terutama pada mata pelajaran matematika yang kurang ia sukai. Perasaan minder pun sempat menjadi bagian dari masa kecilnya.
Meski demikian, kehidupan kemudian membawanya pada pengalaman yang mengubah arah hidupnya.
Perubahan besar terjadi ketika ayah Rahmi mendapat tugas mengajar di Malaysia. Seluruh keluarga ikut pindah dan Rahmi melanjutkan sekolah di negeri jiran tersebut.
Lingkungan pendidikan yang baru justru membuatnya berkembang. Di sana, Rahmi mampu meraih peringkat sepuluh besar di kelas. Sistem pembelajaran yang berbeda memberinya ruang untuk menemukan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang.
Namun ketika masa tugas ayahnya selesai, keluarga kembali ke Indonesia. Rahmi harus melanjutkan sekolah di kelas tiga SMP dan kembali beradaptasi dengan sistem pendidikan yang berbeda. Mata pelajaran seperti aljabar, ilmu ukur, hingga sejarah Indonesia menjadi tantangan tersendiri baginya.
Kepercayaan diri Rahmi mulai tumbuh kembali ketika ia memilih jurusan bahasa saat SMA. Kemampuannya dalam bahasa Inggris menonjol dan mendapat perhatian para guru.
Pilihan yang Mengubah Jalan Hidup
Melihat potensi tersebut, ayahnya menyarankan agar Rahmi melanjutkan pendidikan di IKIP untuk menjadi guru, mengikuti jejak kedua orang tuanya. Ia pun mendaftar.
Namun seorang temannya mengajak Rahmi untuk sekaligus mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Andalas. Tanpa rencana besar, Rahmi mengikuti saran tersebut.
Tak disangka, pengumuman kelulusan dari Fakultas Hukum Universitas Andalas keluar lebih dahulu. Beberapa hari kemudian, kabar lain datang: ia juga diterima di IKIP dengan peringkat tinggi.
Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga, Rahmi akhirnya memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Andalas. Keputusan sederhana itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia hukum.
Menjadi Hakim Tanpa Rencana
Setelah lulus kuliah, Rahmi merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Suatu hari, ketika mencari informasi lowongan di Kementerian Tenaga Kerja, ia bertemu seseorang yang menyarankan agar mencoba melamar ke Kementerian Kehakiman.
Rahmi bahkan tidak mengetahui lokasi kementerian tersebut. Namun orang yang ia temui justru mengantarkannya hingga ke tempat tujuan.
Ia mengikuti saran tersebut dan mendaftar. Tidak lama kemudian, namanya tercantum sebagai calon hakim yang lulus seleksi.
“ Saya tidak percaya bisa lulus tanpa koneksi apa pun,” kenangnya.
Keputusan menjadi hakim sempat mendapat keraguan dari sebagian keluarga. Bahkan salah satu adiknya sempat melarangnya karena stigma negatif terhadap profesi hakim. Namun Rahmi memiliki pandangan berbeda.
Menurutnya, jika banyak orang menganggap profesi tersebut gelap, maka justru harus ada orang yang berusaha menyalakan cahaya di dalamnya.
Rahmi memulai kariernya sebagai calon hakim di Pengadilan Negeri Bogor pada 1985. Selain bertugas sebagai hakim, ia juga aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan hukum.
Kariernya terus berkembang. Ia pernah bertugas di Pengadilan Negeri Padang Panjang, menjadi asisten Hakim Agung di Mahkamah Agung, hingga menjabat hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menangani perkara perdata, pidana, dan niaga.
Ia kemudian diangkat menjadi Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Jakarta serta dipercaya sebagai Panitera Muda Perdata Khusus Mahkamah Agung.
Dalam perjalanan kariernya, Rahmi sempat mencoba mengikuti seleksi calon hakim agung pada 2014. Ia lulus seleksi di Komisi Yudisial, namun gagal dalam uji kelayakan di DPR. Pengalaman tersebut sempat membuatnya trauma untuk kembali mencoba.
Namun atas dorongan pimpinan dan setelah memperdalam ilmu melalui studi doktoral, Rahmi akhirnya kembali mengikuti seleksi.
Perjalanan panjang itu berujung pada pelantikannya sebagai Hakim Agung Kamar Perdata Mahkamah Agung Republik Indonesia pada 12 Maret 2020.
Pesan untuk Para Hakim
Bagi Rahmi, kunci menjadi hakim yang baik adalah terus belajar dan menjaga integritas. Menurutnya, hakim harus rajin membaca undang-undang serta mengikuti perkembangan hukum agar mampu memutus perkara dengan benar.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga sikap, pergaulan, dan gaya hidup agar tidak menimbulkan persepsi negatif yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan.
“Hidup sederhana saja,” pesannya.
Rahmi juga memberi dorongan khusus bagi hakim perempuan agar tidak merasa minder dalam meniti karier. Menurutnya, tidak ada orang yang langsung menjadi istimewa tanpa perjuangan.
“Harus berani mencoba, jangan takut salah, dan pantang menyerah,” ujarnya.
Bagi Rahmi, inti dari profesi hakim tetap sederhana: memahami hukum dengan baik dan menjatuhkan putusan yang adil serta benar.
Editor : Ali Hanafiah
Penulis: Azzah Zain Al Hasany


