Daerah

Hilirisasi Kelapa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Halmahera Utara

Halmahera Utara, GemaTipikor – Pengembangan industri pengolahan kelapa di kawasan transmigrasi Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, dinilai menjadi salah satu contoh implementasi hilirisasi yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Hal tersebut disampaikan Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat melakukan kunjungan ke fasilitas pengolahan kelapa milik PT Natural Indococonut Organik (NICO) bersama Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Wang Lutong, di Halmahera Utara beberapa waktu lalu.

Menurut Menteri Iftitah, hilirisasi dan industrialisasi yang dikembangkan di kawasan transmigrasi telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama petani kelapa. Jika sebelumnya kelapa dijual sebagai bahan mentah dengan harga sekitar Rp500 hingga Rp700 per butir, kini harga di tingkat petani meningkat menjadi Rp2.500 hingga Rp3.000 per butir seiring bertambahnya kebutuhan industri pengolahan.

“Dulu kawasan transmigrasi identik dengan produksi bahan mentah. Kini industri dan hilirisasi mampu membentuk ekosistem ekonomi baru yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Iftitah.

Selain meningkatkan harga jual hasil pertanian, keberadaan industri pengolahan kelapa juga dinilai membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Kementerian Transmigrasi menyebut sekitar 85 persen tenaga kerja yang bekerja di perusahaan tersebut berasal dari masyarakat lokal.

Pemerintah melihat Halmahera Utara memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai salah satu pusat industri kelapa nasional. Potensi tersebut didukung tingginya permintaan pasar internasional, termasuk dari Tiongkok yang membutuhkan pasokan kelapa dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan industrinya.

Dalam kesempatan yang sama, Dubes RRT untuk Indonesia, Wang Lutong, menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia. Ia menyatakan peluang kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok masih terbuka luas, baik dalam bidang perdagangan maupun investasi sektor pengolahan kelapa.

Pemerintah juga menyoroti peluang pengembangan produk turunan kelapa lainnya, termasuk pemanfaatan serabut kelapa yang berpotensi diolah menjadi bahan baku industri maupun sumber energi terbarukan.

Untuk mendukung pengembangan kawasan, Kementerian Transmigrasi berencana memperkuat infrastruktur pendukung, seperti jalan produksi dan fasilitas logistik, guna meningkatkan efisiensi distribusi hasil produksi serta daya saing industri di daerah.

Rencana ekspansi yang tengah disiapkan PT NICO diproyeksikan dapat meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan dan membuka peluang penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Pemerintah berharap pengembangan industri tersebut dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi.

Reporter: Ali Han
Sumber: Kementerian Transmigrasi RI.

Related Articles

Back to top button