Mahasiswa KKN Diajak Jadi Motor Inovasi Berbasis Kearifan Lokal di Kepulauan Yapen
Jayapura, GemaTipikor – Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, Yusharto Huntoyungo, mengajak mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Cenderawasih (Uncen) untuk menjadi agen perubahan dengan menghadirkan inovasi berbasis kearifan lokal demi mendukung kemajuan Kabupaten Kepulauan Yapen.
Ajakan tersebut disampaikan Yusharto saat memberikan paparan dalam kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal dan Penguatan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Kepulauan Yapen, yang dirangkaikan dengan pelepasan simbolis mahasiswa KKN Uncen di Auditorium Universitas Cenderawasih, Jayapura, Kamis (16/7/2026).
Dalam paparannya, Yusharto menegaskan bahwa KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di tengah masyarakat.
“Kehadiran mahasiswa harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. KKN menjadi kesempatan untuk melahirkan solusi yang inovatif, memperkuat pemberdayaan masyarakat, sekaligus mengoptimalkan potensi lokal sebagai modal pembangunan daerah,” ujar Yusharto.
Menurutnya, Kabupaten Kepulauan Yapen memiliki potensi besar di berbagai sektor, seperti perikanan, pertanian, pariwisata, hingga kekayaan budaya masyarakat adat. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi penggerak ekonomi daerah apabila dikelola secara kreatif tanpa mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Yusharto menekankan bahwa kearifan lokal bukan hanya warisan budaya, tetapi juga modal sosial yang dapat menjadi fondasi dalam menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, mahasiswa KKN didorong untuk menggali potensi lokal, mengembangkannya menjadi program pemberdayaan, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Ia menilai berbagai solusi pembangunan tidak selalu harus berasal dari gagasan baru, melainkan dapat lahir dari pengembangan kekuatan lokal yang telah dimiliki masyarakat.
“Tugas adik-adik sekalian adalah membantu mengembangkan potensi tersebut melalui pendekatan yang lebih inovatif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” katanya.
Selain melaksanakan program kerja selama masa pengabdian, mahasiswa juga diharapkan mampu meninggalkan praktik-praktik baik yang dapat diteruskan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah setelah kegiatan KKN selesai. Dengan demikian, manfaat pengabdian tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan.
Yusharto juga menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran atau pembangunan infrastruktur, melainkan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mampu menciptakan inovasi sesuai karakteristik wilayahnya.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah daerah dalam memperkuat kapasitas masyarakat melalui riset, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan lokal.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara dunia akademik, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi daerah.
Reporter: Ali Han
Puspen: Kemendagri





