Pembagian Bansos di Desa Malikian Sempat Ricuh,
Warga Tampar Meja Akibat Dugaan Kurangnya Transparansi Data

Mempawah, Desa Malikian – Proses pembagian bantuan sosial (bansos) di Desa Malikian, pada senen (1/12/2025), sempat diwarnai insiden kericuhan ketika seorang warga menampar meja di hadapan perangkat desa. Insiden tersebut terjadi saat sebagian warga mempertanyakan kejelasan data penerima bantuan yang dinilai tidak transparan.
Menurut keterangan sejumlah saksi, suasana awal pembagian bantuan berjalan lancar. Namun, ketegangan muncul ketika beberapa warga merasa tidak mendapatkan penjelasan yang memadai terkait kriteria penerima. Salah satu warga yang tidak disebutkan namanya kemudian meluapkan emosinya dengan menampar meja sebagai bentuk protes.
“Warga hanya ingin penjelasan jelas, kenapa nama mereka tidak masuk. Bukan karena nominal bantuannya, tapi soal keadilan,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat. Ia menambahkan bahwa warga berharap pendataan dilakukan secara terbuka agar tidak menimbulkan salah paham.

Seperti ibu Nela bercerita, “Awalnya saya kan dapat setiap tahunnya, namun karena tahun ini saya nggak dapat ingin memastikan bersama teman-teman yang senasib kurang lebih kami sekitar 20 orang pergi ke kantor dinas sosial, sesampainya kami di kantor dinas sosial kami di arahkan lagi ke kantor desa, karena mereka yang pegang data ucap salah satu pegawai dinsos ibu nela menceritakan.
“Setelah mendapatkan jawaban dari dinsos lekanglah kami ke kantor desa, sesampainya di kantor desa ibu Linda kasi kemasyarakatan tidak mau menunjukkan data – data penerima yang kami minta, saat bersamaan orang bulog datang lalu kami di dampingi babinsa bertanya ke orang bulok, Orang bulog mengatakan kami sifatnya mengeluarkan barang, soal data desa yang lebih tau, karena data itu dari desa masuk ke dinsos baru ke kami bulog, sebut orang bulog tersebut menjelaskan.
” Ibu Nela berpendapat sengaja memang yang 20 orang ini data nya di simpan, kenapa saya berkata demikian karena kami temukan data kami itu masih ada di desa, karena saat ibu Linda ijin pamit keluar kami inisiatif mencari muncul nama – nama kami di situ. Pungkas Nela menceritakan.
Pihak perangkat desa, ibu Linda kasi kemasyarakatan Desa Malikian, menyampaikan terkait perihal penolakan membuka data karena pada saat beberapa masyarakat bertanya kami lagi sibuk untuk penyaluran sembako situasi nya ramai lagi, Ia juga menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi karena miskomunikasi.
“Kami memahami kekecewaan masyarakat. Pendataan sudah dilakukan sesuai prosedur, namun kami akui perlu penyempurnaan. Tidak ada niat menutupi informasi. Ke depan, kami akan menggelar forum khusus untuk menjelaskan data penerima secara lebih rinci,” jelasnya.
” Adapun bantuan ini berupa beras dan minyak goreng, yang diterima desa malikian itu 388 KPM di kali dua, di tambah minyak goreng 4 liter per KPM nya.
Kepala desa malikian Ahmad Sahadi, mengatakan data pangan nasional terkait penerima bantuan bansos tidak akurat sama sekali, Sebelumnya kami sudah upayakan mencari solusinya dengan mengadakan pertemuan dengan beberapa instansi seperti danramil, dinsos, badan pangan, badan statistik, tapi berapa instansi tidak menghadiri nya. Pungkas kades.
Kades menambahkan tujuan dari pada kami mengundang bulog dan dinsos dan badan statistik untuk akurasi data, karena di desa ini jelas kita temukan ada yang kita anggap ekonomi nya mampu tapi masih dapat beras, ada yang miskin justru itu tidak dapat bantuan tidak terkaper datanya di dinsos dan bantuan pangan nasional.
“Upaya itu selalu kita usahakan melalui organisasi apdesi kabupaten mempawah, karena kita juga tidak diperbolehkan serta merta mengganti data yang sudah ada, tetap ada mekanisme nya, Kades sendiri berharap melalui Apdesi mohon kepada pemerintah pusat supaya melakukan akurasi data terkait penerima bantuan dalam hal ini masyarakat kurang mampu, supaya kami pemerintah paling bawah tidak pada posisi seperti ini, supaya gejolak itu tidak terjadi terus menerus di desa, Pungkas pak Kades desa malikian.(Darso).





