Hakim Perempuan Indonesia Perkuat Jejaring Global Demi Peradilan Berkeadilan

Adelaide, Australia, GemaTipikor – Mahkamah Agung Republik Indonesia melalui perwakilan Badan Perhimpunan Hakim Perempuan Indonesia (BPHPI) Ikatan Hakim Indonesia menghadiri kegiatan Women in Leadership Program dan International Association of Women Judges (IAWJ) Asia Pacific Regional Conference 2026 di Adelaide Marriott Hotel, Adelaide, Australia.
Kegiatan yang berlangsung sejak 13 hingga 15 Mei 2026 tersebut dipimpin langsung Ketua BPHPI, Nani Indrawati. Menurutnya, forum internasional tersebut menjadi momentum penting bagi para hakim perempuan untuk memperkuat kepemimpinan di lingkungan peradilan sekaligus membahas tantangan hukum modern.
“Bagi para hakim perempuan, forum tersebut menjadi forum yang penting untuk membahas penguatan kepemimpinan perempuan di lingkungan peradilan, pemanfaatan teknologi dalam pengadilan, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan,” ujar Nani di sela kegiatan.
Dalam konferensi tersebut, Nani Indrawati hadir bersama sejumlah tokoh peradilan internasional, di antaranya Sarah E. Tuberville, Maria Theresa Mendoza-Arcega, Tetiro Semilota Maate Moaniba, serta Talasa Saaga dalam sesi Stepping Up: Women Advancing Judicial Leadership in the Asia Pacific.
Konferensi yang diikuti hakim, akademisi, dan praktisi hukum dari berbagai negara itu membahas berbagai isu strategis dunia peradilan modern. Salah satu isu utama yang mendapat perhatian ialah dampak perubahan iklim terhadap masyarakat Pasifik serta pentingnya perspektif perempuan dalam perlindungan hak asasi manusia dan lingkungan hidup.
Selain itu, perkembangan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia peradilan juga menjadi pembahasan penting, terutama terkait pemanfaatannya dalam mendukung administrasi peradilan dan langkah antisipasi terhadap tantangan etik.
Forum tersebut juga menyoroti persoalan kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi seksual anak berbasis digital, hingga pentingnya pendekatan peradilan yang lebih sensitif terhadap korban. Para pembicara berbagi pengalaman mengenai penanganan perkara kekerasan berbasis gender dan perlindungan anak di berbagai yurisdiksi kawasan Asia Pasifik.
Dalam kesempatan itu, Nani Indrawati turut memaparkan perkembangan kepemimpinan hakim perempuan di Indonesia dan pentingnya penguatan program mentorship di lingkungan peradilan.
“Dalam mendorong penguatan kepemimpinan hakim perempuan, Mahkamah Agung melalui BPHPI telah menyusun Program Mentoring,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan kelembagaan, jejaring profesional, serta pembinaan berkelanjutan menjadi faktor penting dalam melahirkan lebih banyak pemimpin perempuan di lembaga peradilan.
Konferensi tersebut juga dihadiri Carly Schrever, seorang pengacara sekaligus peneliti di bidang psikologi yang fokus pada judicial wellbeing atau kesejahteraan hakim. Penelitiannya disebut sebagai studi empiris pertama di Australia yang secara khusus menyoroti stres kerja dan kesejahteraan hakim.
Delegasi Indonesia juga melakukan kunjungan ke Federal Circuit and Family Court of Australia di Adelaide guna mempelajari penanganan sengketa hak asuh anak dengan pendekatan keadilan restoratif dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak.
Partisipasi Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam forum internasional tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat reformasi kelembagaan peradilan agar mampu menjawab tantangan global serta membangun sistem peradilan yang inklusif, profesional, dan berkeadilan.
Selain menghadiri konferensi di Adelaide, BPHPI dijadwalkan melanjutkan agenda kegiatan di Melbourne pada 18–19 Mei 2026 atas undangan Federal Circuit and Family Court of Australia untuk membahas kepemimpinan perempuan, program mentoring, serta kebijakan lingkungan kerja yang aman.
Editor: AH
Penulis: Melissa- Dandapala





