Sinergi Media dan Institusi Jadi Kunci Hadapi Tantangan Informasi Digital
Jakarta, GemaTipikor – Perkembangan digitalisasi yang semakin pesat menuntut terbangunnya hubungan yang lebih erat antara media dan institusi publik. Di tengah derasnya arus informasi, tantangan utama bukan lagi sekadar menyampaikan berita dengan cepat, tetapi menjaga kepercayaan masyarakat melalui informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua Umum FORSIMEMA-RI, Syamsul Bahri, menilai sinergi antara media dan institusi harus dibangun di atas prinsip keterbukaan, profesionalisme, serta saling memahami peran masing-masing. Menurutnya, hubungan yang sehat antara kedua pihak menjadi fondasi penting dalam menciptakan iklim informasi yang kredibel di era digital.
Dari sisi institusi, keterbukaan informasi dinilai menjadi langkah utama untuk mencegah munculnya ruang kosong informasi yang berpotensi diisi hoaks maupun spekulasi. Penyediaan data yang akurat, transparan, dan respons cepat terhadap permintaan konfirmasi akan membantu media menghasilkan pemberitaan yang lebih tepat.
Selain itu, institusi juga diharapkan memandang media sebagai mitra strategis dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, edukasi publik, serta penyampaian informasi kepada masyarakat, bukan sebagai pihak yang harus dihindari ketika muncul kritik.
Di sisi lain, media dituntut tetap menjunjung tinggi profesionalisme di tengah persaingan digital yang mengedepankan kecepatan. Verifikasi fakta, konfirmasi kepada narasumber, keberimbangan informasi, dan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik harus tetap menjadi prioritas dibanding mengejar sensasi atau jumlah pembaca.
Media juga memiliki peran penting dalam memberikan konteks yang utuh terhadap setiap isu sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh informasi secara cepat, tetapi juga memahami substansi persoalan secara komprehensif.
Menurut Syamsul Bahri, ruang kolaborasi yang sehat akan terbangun apabila institusi mengedepankan transparansi, sementara media tetap menjaga independensi dan objektivitas dalam menjalankan fungsi jurnalistik.
Menanggapi pertanyaan mengenai langkah paling mendesak agar mutual understanding tidak berhenti sebagai slogan, terutama dalam menghadapi isu-isu sensitif, terdapat beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan, yaitu:
• Membentuk protokol komunikasi krisis antara institusi dan media agar informasi awal dapat disampaikan secara cepat tanpa mengganggu proses hukum atau penyelidikan.
• Menunjuk juru bicara yang kompeten dan responsif sehingga kebutuhan konfirmasi media dapat dipenuhi dalam waktu yang wajar.
• Mengadakan forum dialog rutin antara pimpinan institusi, humas, organisasi pers, dan jurnalis untuk membahas evaluasi komunikasi publik.
• Meningkatkan literasi digital bagi aparatur maupun insan pers agar mampu menghadapi disinformasi dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
• Menegakkan Kode Etik Jurnalistik serta prinsip keterbukaan informasi secara konsisten sehingga kritik dan transparansi dapat berjalan beriringan.
Dengan langkah-langkah tersebut, hubungan antara media dan institusi diharapkan tidak hanya menghasilkan informasi yang cepat, tetapi juga akurat, berimbang, serta mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap informasi yang beredar di ruang digital.
Penulis: Syamsul Bahri
Ketua Umum FORSIMEMA-RI
Editor: Ali Han





