Nasional

SMAN 1 Pontianak Pilih Mundur dari Final Ulang, Kritik Elegan atas Carut-Marut Penilaian MPR

Pontianak I GemaTipikor — Keputusan mengejutkan namun sarat makna ditunjukkan SMAN 1 Pontianak dalam polemik lomba tingkat provinsi yang belakangan menyita perhatian publik. Di tengah keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang menetapkan final ulang, pihak sekolah justru mengambil langkah tegas: menolak mengikuti pertandingan ulang dan memilih mengakhiri polemik dengan kepala tegak.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, pada Kamis (14/5/2026), sekolah tersebut menegaskan bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam laga ulang yang sebelumnya diputuskan sebagai jalan keluar atas kontroversi penilaian.
Sikap itu bukan bentuk kekalahan, melainkan kritik terbuka yang disampaikan secara elegan terhadap mekanisme penilaian yang dinilai tidak transparan sejak awal.
SMAN 1 Pontianak menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan semata mengejar gelar juara, melainkan memperjuangkan objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam proses lomba. Mereka menilai, dunia pendidikan tidak boleh dipertaruhkan hanya demi menutupi kekeliruan teknis maupun penilaian yang memicu kegaduhan publik.
“Kami tidak bermaksud menganulir hasil lomba, melainkan meminta kejelasan poin dan proses penilaian,” tulis pihak sekolah dalam keterangannya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik halus namun menohok terhadap pihak penyelenggara dan dewan juri yang dianggap gagal membangun kepercayaan publik melalui sistem penilaian yang terbuka dan profesional.
Alih-alih larut dalam ambisi merebut kembali podium juara, SMAN 1 Pontianak justru memilih memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas untuk melaju ke tingkat nasional. Langkah itu dinilai banyak pihak sebagai bentuk kedewasaan dan sikap negarawan di tengah situasi yang memanas.
Keputusan mundur tersebut juga menjadi tamparan moral bagi seluruh pihak yang terlibat dalam polemik. Sebab, ketika ruang kompetisi mulai dipenuhi kontroversi, SMAN 1 Pontianak justru menunjukkan bahwa integritas lebih tinggi nilainya daripada trofi.
Publik pun menilai, keputusan itu telah mengubah arah narasi. Dari sekadar sengketa lomba, menjadi pelajaran penting tentang etika, sportivitas, dan keberanian menjaga martabat institusi pendidikan.
SMAN 1 Pontianak menutup polemik dengan ajakan persatuan serta permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Namun di balik sikap tenang itu, tersimpan pesan keras bahwa keadilan dan transparansi tidak boleh menjadi formalitas dalam dunia pendidikan.
Mereka mungkin mundur dari arena lomba, tetapi di mata publik, SMAN 1 Pontianak justru berdiri sebagai simbol “juara sejati” — menang tanpa harus mengangkat piala.
Sebab pada akhirnya, penghormatan publik tidak lahir dari hadiah yang diberikan, melainkan dari integritas yang diperjuangkan.(TIM)

Related Articles

Back to top button