Berita Pilihan

Puluhan Pelajar di Kedunggalar Ngawi Mengalami Gejala Keracunan Usai Konsumsi MBG

Penanganan Cepat Diberikan Petugas Kesehatan

Ngawi I GemaTipikor — Insiden dugaan keracunan makanan terjadi pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, pada Rabu, (26/11/2025) . Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, total 48 siswa diketahui mengalami gejala keracunan. Mereka terdiri dari 11 siswa SDN Jenggrik 6 serta 37 siswa dari SMP Negeri 2 Kedunggalar.

Para siswa yang mengalami keluhan seperti mual, pusing, dan muntah segera dievakuasi menuju Puskesmas Gemarang Kedunggalar. Penanganan medis dilakukan dengan cepat oleh tim kesehatan, termasuk observasi intensif dan pemberian tindakan yang diperlukan untuk menstabilkan kondisi para pelajar. Hingga saat ini, penanganan masih terus berlangsung dengan pengawasan tenaga medis.

Dr.Arsad Ragandhi S.IP.,M.Si

Camat Kedunggalar, Dr. Arsad Ragandhi, S.IP., M.Si. saat ditemui awak media GemaTipikor menyampaikan bahwa pihaknya forkompimcam Kedunggalar terus memantau perkembangan kondisi para korban serta berkoordinasi dengan instansi terkait. Ia mengimbau agar orang tua siswa tidak panik karena seluruh korban telah ditangani secara serius di fasilitas kesehatan.

“Kami berharap masyarakat tetap tenang. Penanganan telah dilakukan secara maksimal oleh pihak medis. Kejadian ini tentu menjadi bahan evaluasi kami ke depan agar pelaksanaan program MBG berjalan lebih aman,” ujarnya.

Agus Wijayanto Kepala SPPG

Sementara Agus Wijayanto, Kepala SPPG Kawu Kedunggalar, menjelaskan bahwa program MBG di wilayah tersebut telah berjalan selama delapan hari berjalan dengan aman dan lancar, dan mencakup 35 sekolah dengan total 2.135 siswa. Menu yang dibagikan pada hari terjadinya insiden adalah telur puyuh bumbu kuning.

> “Kami sangat prihatin dengan kejadian hari ini. Evaluasi internal akan segera kami lakukan dan kami menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Ngawi untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya keracunan,” ungkapnya.

Peristiwa ini menjadi perhatian bersama dan diharapkan dapat menjadi dasar peningkatan standar keamanan pangan pada program MBG. Pemerintah kecamatan, pihak kesehatan, serta penyelenggara layanan konsumsi menyatakan komitmennya untuk memperkuat pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang dan program tetap dapat memberikan manfaat optimal bagi siswa.(AS)

Related Articles

Back to top button