Berawal dari Asap Jerami, Siswa SMPN 3 Paron Hadirkan Inovasi “Mujepa” Ramah Lingkungan

Ngawi I GemaTipikor — Persoalan lingkungan kerap hadir di sekitar masyarakat, namun tidak selalu direspons dengan solusi nyata. Di SMP Negeri 3 Paron, Kabupaten Ngawi, polusi asap akibat pembakaran jerami yang selama ini mengganggu kegiatan belajar justru menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi edukatif bernama Mujepa (Mulsa Jerami Padi).
Inovasi ini diprakarsai oleh Riana Fathonatul Qoidah, M.Pd, guru SMPN 3 Paron, yang merasa prihatin dengan kebiasaan pembakaran jerami di area persawahan sekitar sekolah setiap musim panen. Kepulan asap dan bau sangit tak jarang dikeluhkan siswa karena mengganggu kenyamanan belajar serta mengotori lingkungan sekolah.

Alih-alih berhenti pada keluhan, Riana memilih menjadikan persoalan tersebut sebagai media pembelajaran kontekstual melalui Proyek Pembelajaran Berbasis Aksi. Dari sinilah Mujepa lahir—sebuah gerakan pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa organik yang ramah lingkungan.
“Kita cari tahu sama-sama, ya,” ungkap Riana saat mengajak siswa menelusuri potensi jerami. Kalimat sederhana tersebut menjadi pemantik transformasi limbah pertanian menjadi sarana pembelajaran yang bernilai.
Edukasi Berbasis Realitas Lingkungan
Program Mujepa dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan lingkungan, tetapi sebagai proses pembelajaran yang utuh. Siswa diajak mengenali persoalan nyata di sekitar mereka, memahami dampaknya, lalu merumuskan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Melalui penggunaan jerami sebagai mulsa organik, siswa mempelajari manfaat ekologis seperti menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, serta memperkaya unsur hara tanah tanpa ketergantungan pada bahan kimia. Lebih dari itu, Mujepa juga menanamkan nilai empati, kepedulian lingkungan, dan kemampuan berpikir kritis sejak dini.
Mengedukasi Masyarakat, Mengubah Pola Pikir
Tak berhenti di lingkungan sekolah, Mujepa juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekitar. SMPN 3 Paron berupaya menyampaikan pesan bahwa jerami memiliki nilai guna yang jauh lebih tinggi daripada sekadar dibakar. Pembakaran jerami tidak hanya menimbulkan polusi udara, tetapi juga merusak mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam kesuburan lahan.
Melalui aksi nyata ini, siswa belajar bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Lingkungan sekitar dapat menjadi laboratorium hidup yang menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab sosial.
Mujepa dan Landasan Ilmiah Kesuburan Tanah
Secara teknis, penggunaan mulsa jerami memiliki manfaat berkelanjutan yang didukung oleh prinsip ilmiah. Mulsa jerami mampu menekan penguapan air tanah hingga 30–50 persen, menjaga kelembapan lahan terutama di musim kemarau. Saat terurai, jerami mengembalikan unsur hara penting seperti Kalium (K) dan Silika (Si) yang berperan memperkuat batang tanaman padi.
Selain itu, lapisan jerami membantu menekan pertumbuhan gulma serta menciptakan lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme dan cacing tanah. Hal ini berbanding terbalik dengan praktik pembakaran jerami yang justru merusak struktur dan kehidupan tanah akibat panas ekstrem.
“Dengan tidak membakar jerami, kita sedang menjaga tabungan nutrisi tanah untuk masa depan. Mujepa mengajarkan siswa bahwa limbah pertanian adalah emas hitam yang tertunda,” pungkas Riana.
Tentang SMP Negeri 3 Paron
SMP Negeri 3 Paron merupakan institusi pendidikan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang berkomitmen mengembangkan karakter siswa melalui pembelajaran berbasis proyek, inovasi kontekstual, serta kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup.(AS)





