“Ruang Guru Menjadi Ruang Tumbuh” — GPMB Ngawi Perkuat Budaya Literasi dan Kolaborasi Pendidik

Ngawi I GemaTipikor — Semangat literasi dan kolaborasi pendidikan kembali tumbuh melalui kegiatan bertajuk “Harmoni dalam Ruang Guru” yang digelar pada Senin, 25 Mei 2026 di SDN Sambiroto 1 Kecamatan Padas Kabupaten Ngawi
Kegiatan yang diikuti 22 guru jenjang Sekolah Dasar ini menjadi momentum penting dalam membangun budaya berbagi pengetahuan dan memperkuat ekosistem literasi di lingkungan pendidikan.
Dalam suasana sederhana namun penuh makna, para pendidik hadir bukan sekadar mengikuti pelatihan, melainkan membawa semangat untuk tumbuh bersama. Laptop dan catatan yang mereka bawa menjadi simbol kesungguhan dalam membuka ruang gagasan, berbagi pengalaman mengajar, serta menyampaikan praktik-praktik baik yang selama ini hidup di ruang kelas masing-masing.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Ngawi dalam mendampingi penguatan literasi di kalangan guru. GPMB hadir tidak hanya sebagai penggerak minat baca, tetapi juga sebagai penghubung lahirnya budaya belajar kolektif, jejaring pembelajaran yang sehat, serta penguatan tradisi menulis dan berbagi pengalaman pendidikan.
Di ruang pelatihan tersebut, para guru tampak serius menatap layar laptop mereka. Namun sesungguhnya, mereka sedang membuka jendela yang lebih luas: jendela ide, refleksi, dan inovasi pembelajaran. Setiap pengalaman yang ditulis dan dibagikan diyakini mampu menjadi inspirasi bagi guru lainnya, sehingga praktik baik tidak berhenti di satu ruang kelas saja, melainkan berkembang menjadi energi perubahan bersama.
Kegiatan “Harmoni dalam Ruang Guru” juga menjadi pengingat bahwa setiap guru adalah penulis pengalaman dan penggerak perubahan pendidikan. Setiap tantangan pembelajaran dapat menjadi bahan refleksi yang berharga, sementara setiap inovasi layak didokumentasikan agar dapat memberi manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan.
Melalui pendampingan yang dilakukan GPMB, para guru didorong untuk tidak hanya fokus pada proses mengajar, tetapi juga membangun budaya literasi yang hidup di sekolah. Menulis, mendokumentasikan praktik pembelajaran, serta menyuarakan inovasi pendidikan menjadi bagian penting dalam menciptakan pendidikan yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar kegiatan pelatihan, “Harmoni dalam Ruang Guru” menjadi simbol bahwa perubahan besar dalam pendidikan dapat lahir dari ruang-ruang sederhana yang dipenuhi ketulusan untuk belajar dan berbagi. Di ruang guru inilah harmoni tumbuh—menyatukan pengalaman, harapan, gagasan, dan tindakan demi masa depan pendidikan yang lebih baik.
Adapun dewan juri dalam kegiatan tersebut terdiri dari: Riana Fathonatul Qoidah, Eka Ermiyantidan Rini Soepraptini. ( AS )





