Daerah

Menjaga Jejak, Merawat Ingatan: Perjuangan Sunyi Pelestari Pusaka di Kalimantan Barat

Kalbar I GemaTipikor — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, sebuah ruang sempit di sudut Kalimantan Barat justru menyimpan denyut sejarah yang nyaris terlupakan. Di sanalah Heri Sugiarto menapaki jalan sunyi—merawat jejak peradaban yang hampir terhapus zaman.

Deretan pusaka tersusun rapi: keris berbalut kain lusuh, naskah tua dengan tinta yang memudar, hingga peralatan adat yang perlahan tersingkir dari ingatan kolektif. Bagi Heri, benda-benda itu bukan sekadar artefak, melainkan identitas.

“Pusaka bukan benda mati. Ia penanda peradaban. Jika hilang, kita tidak sekadar kehilangan barang—kita kehilangan jejak diri,” ujarnya, Minggu (12/04/2026).

Sejak 2021, Heri memilih jalan yang tak banyak dilirik generasi kini—pelestarian pusaka. Di tengah dominasi budaya digital, langkah ini menjadi bentuk perlawanan halus terhadap lupa. Kini, sebagai salah satu ketua di Pusaka Nusantara Kalbar, ia mulai menata gerakan lebih sistematis.

Inventarisasi pusaka dilakukan, dokumentasi diperbaiki, hingga perawatan mulai mengikuti standar yang lebih layak. Bukan lagi sekadar menyimpan, melainkan merawat dengan kesadaran sejarah dan tanggung jawab budaya.

Namun, perjuangan itu tak lepas dari tantangan serius. Minimnya perhatian pemerintah daerah membuat banyak pusaka terabaikan. Di sejumlah wilayah, benda bersejarah hanya disimpan seadanya—bahkan berpindah tangan karena tekanan ekonomi.

Di titik kritis itulah Heri memilih turun langsung ke masyarakat. Ia membangun dialog, menanamkan kesadaran bahwa nilai pusaka tidak bisa ditakar dengan rupiah.

“Yang dijual itu bukan benda, tapi sejarah,” katanya tegas.

Perlahan, upaya itu mulai membuahkan hasil. Sejumlah generasi muda mulai tertarik, bergabung, dan belajar membaca ulang sejarah lokal yang selama ini terasa jauh dari kehidupan mereka. Gerakannya memang kecil, namun denyutnya mulai terasa.

Tak hanya itu, beberapa pusaka yang dirawat bahkan telah menembus panggung pameran, meraih penghargaan dari berbagai ajang. Ini menjadi penegas bahwa pelestarian budaya bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan kerja nyata yang memiliki nilai dan pengakuan.

Heri pun memendam harapan lebih besar: membawa pusaka Nusantara ke panggung regional ASEAN, memperkenalkan warisan budaya lokal ke dunia yang lebih luas.

Namun, mimpi itu masih berjalan tanpa sokongan kuat dari pemerintah. Dukungan yang diharapkan menjadi fondasi, hingga kini belum sepenuhnya hadir.

“Saya berharap pemerintah bisa melihat ini. Bukan untuk saya, tapi untuk masa depan budaya kita,” ucapnya.

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, apa yang dilakukan Heri mungkin tampak kecil—bahkan nyaris tak terdengar. Namun justru dari sunyi itulah, ingatan kolektif dijaga, sejarah dirawat, dan identitas bangsa dipertahankan.

Sebab pusaka bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah penunjuk arah—ke mana sebuah bangsa seharusnya melangkah.(BSG)

Related Articles

Back to top button