Berita Investigasi

Proyek SPAM Godang Damar Dikebut: Klaim Progres 95% Dipertanyakan, Pipa Utama Belum Terpasang Tuntas

Bengkayang I GemaTipikor — Proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Godang Damar, Kecamatan Lembah Bawang, kembali menjadi bahan perbincangan hangat. Alih-alih menunjukkan progres mulus seperti yang diklaim pihak konsultan, kondisi lapangan justru mengungkap fakta berbeda. Angka 95% progres yang disampaikan terkesan indah, namun realitas di lapangan menunjukkan pekerjaan paling krusial—pemasangan pipa utama—belum tuntas.

Konsultan pengawas lapangan, Ryan, menyampaikan keterangan resmi terkait perkembangan proyek tersebut. Ia mengklaim sejumlah komponen pekerjaan telah mendekati akhir.

Menurutnya:

1. Sambungan Rumah (SR) telah mencapai 95% dan ditargetkan selesai dalam pekan ini. Semua material SR disebut telah berada di lokasi sejak lebih dari sebulan, sehingga hanya tinggal proses pengkoneksian ke pipa layanan.

2. Pipa utama, yang seharusnya menjadi prioritas dan tulang punggung sistem distribusi air, masih belum terpasang secara penuh. Pekerjaan, kata Ryan, kini berfokus pada penyelesaian perlintasan pipa di beberapa jembatan—bagian yang biasanya memakan waktu lebih lama karena aspek teknis dan akses lapangan.

3. Sebagian SR dilaporkan sudah mengalir pada Jumat, 5 Desember lalu. Sementara sisanya akan difungsikan setelah uji coba jaringan perpipaan rampung dalam pekan ini.

“Kami memaksimalkan sisa waktu agar pekerjaan bisa selesai 100% sebelum kontrak berakhir. Semua sesuai dokumen kontrak,” tegas Ryan.

Namun penjelasan tersebut justru memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Bagaimana mungkin progres mencapai 95% jika pipa utama—komponen paling fundamental dari seluruh sistem SPAM—masih belum selesai? Publik menilai klaim tersebut berpotensi menyesatkan dan tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya.

Progres Tinggi, Pekerjaan Vital Tertinggal: Publik Anggap Ada Ketidakberesan

Para pemerhati pembangunan daerah mempertanyakan logika perhitungan progres yang disampaikan konsultan. Pipa utama adalah jalur vital. Tanpa itu, SR yang sudah terpasang sebanyak apa pun hanyalah instalasi mati yang belum memiliki suplai air.

Tingginya angka progres dianggap terlalu prematur dan dinilai sebagai upaya menghaluskan citra pekerjaan di tengah keterlambatan komponen utama. Mustahil masyarakat menerima klaim progres hampir rampung ketika pusat distribusi air sendiri belum terhubung secara keseluruhan.

Beberapa tokoh masyarakat bahkan menyebutkan bahwa angka 95% tersebut “hanya cantik di atas kertas, tapi belum terbukti di tanah lapang.” Masyarakat menuntut transparansi, bukan sekadar angka manis yang menutupi pekerjaan tersendat.

Fokus di Perlintasan Jembatan: Alasan Teknis atau Alibi Keterlambatan?

Penyelesaian perlintasan pipa di jembatan-jembatan dijadikan sebagai alasan utama keterlambatan pemasangan pipa utama. Meski diakui sebagai bagian teknis yang kompleks, publik tetap mempertanyakan mengapa titik vital tersebut tidak digeber lebih awal sebelum mendekati akhir masa kontrak.

Bukan hal baru jika proyek fisik menjelang tenggat waktu mendadak “dikebut”, sementara laporan progres sejak awal terkesan aman. Masyarakat khawatir pola serupa kembali terulang di SPAM Godang Damar—proyek terlihat mulus di laporan, namun hasilnya jauh dari sempurna ketika serah terima.

Air Sudah Mengalir di Beberapa SR? Pertanyaan Baru Muncul

Kabar bahwa beberapa SR sudah mengalir justru memunculkan pertanyaan lanjutan. Mengalir dari jalur mana jika pipa utama belum sepenuhnya terpasang? Apakah jaringan sementara digunakan? Apakah uji coba dilakukan tanpa alur distribusi utama yang lengkap?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting agar publik tidak hanya menerima informasi setengah matang yang berpotensi menyesatkan persepsi pencapaian proyek.

Masyarakat Tunggu Bukti Konkret, Bukan Janji Manis Menjelang Kontrak Berakhir

Dengan anggaran negara yang dikelola, proyek SPAM ini wajib memberikan output nyata dan maksimal. Pembangunan infrastruktur dasar seperti air bersih bukan sekadar administrasi proyek, tetapi kebutuhan mendesak masyarakat.

 

Kini masyarakat Desa Godang Damar dan Lembah Bawang menunggu realisasi, bukan retorika teknis yang membingungkan. Apakah proyek benar-benar akan rampung sesuai janji? Atau justru meninggalkan pekerjaan yang dipaksakan selesai demi mengejar batas kontrak?

Satu hal pasti: publik tidak ingin disuguhi angka progres yang manipulatif atau sekadar pencitraan. Mereka menuntut kualitas, kejujuran, dan transparansi atas proyek yang menyangkut kebutuhan dasar warga.

Saat pipa utama masih menganga, klaim 95% tetap menjadi tanda tanya besar—dan publik menunggu siapa yang akan memberi jawaban jujur.(TIM)

Related Articles

Back to top button